25 Esai Rangkuman Santri Membaca Kitab Kuning

Penulis: Maulana Nur Rohman
Mahasantri Mahad Aly Situbondo
Penerbit: Shafiyah Publisher
| Ukuran: 14 x 20 Harga: 95.000 Jumlah Halaman: 203 hlm ISBN (masih dalam proses) |
Tulisan-tulisan dalam buku ini saya kelompokkan dalam tiga bagian. Bagian pertama adalah tulisan-tulisan saya yang lahir pada masa permulaan saya menulis dan membaca kitab, sehingga dari sana pembaca barangkali akan menjumpai banyak ketidakmatangan. Kumpulan tulisan pada bagian kedua secara umum berkaitan dengan tema al-Qur’an. Tulisan-tulisan ini kebanyakan telah diterbitkan di website tafsiralquran.id, tempat saya mula-mula belajar menulis di media online. Bagian ketiga menjadi semacam rangkuman saya setelah membaca dan meneliti pemikiran-pemikiran al-Ghazali. Gairah untuk mempelajari kitab-kitab al-Ghazali didorong oleh tulisan Gus Ulil di website alif.id tentang geneologi sanad keilmuan ulama Indonesia yang bersambung pada al-Ghazali. Kita ini, kata Gus Ulil, adalah anak-cucu intelektual al-Ghazali. Kanal tulisan online yang terakhir ini juga menjadi tempat saya mengirim esai-esai tentang al-Ghazali; sebagian diterima dan kebanyakan ditolak. Oleh karena itu, sebenarnya buku ini saya maksudkan untuk menjadi semacam refleksi atas hasil bacaan saya dan demi memancing kritik serta masukan dari banyak pihak sehingga dapat membuat saya semakin berkembang.
“ … Dengan buku ini, seakan-akan si penulis memberikan sebuah bukti bahwa dirinya telah berhasil mencapai sebuah puncak dakian, dan mengajak kita semua untuk terus bersama-sama mengkaji kitab kuning. Tidak hanya itu, tulisan penulis yang ringan menunjukkan kepada kita bahwa sebagai seorang santri yang menguasai kitab kuning sudah seyogyanya dapat menyampaikan isi kitab kuning dengan cara yang mudah kepada mereka yang tidak sempat mempelajarinya …”
“ … Membaca kitab kuning kemudian menjadikannya sebuah tulisan yang mudah dimengerti adalah salah satu bentuk kepedulian kita kepada warisan para ulama. Kata Kiai Sahal, kitab kuning adalah warisan keilmuan para ulama, apabila kita berhenti mempelajarinya berarti kita telah memutus hubungan keilmuan dengan para ulama terdahulu yang telah terbangun selama beradab-abad. Oleh karena itu, sudah menjadi keharusan kita untuk senantiasa “menghidupkan” kitab kuning. Jika bukan santri, lalu siapa lagi? …”
