Moh. Himami Baydarus
Kiai adalah otoritas penting bagi masyarakat Indonesia. Ia tak hanya sebagai ahli ilmu agama, namun menjadi tumpuan utama bagi setiap persoalan yang menimpa masyarakat. Dalam banyak hal, mulai dari persoalan ibadah, sosial, pengobatan hingga politik, kiai senantiasa menjadi rujukan. Hal inilah yang menjadikan Kiai berbeda dengan institusi keulamaan yang lain. Menjadi kiai senantiasa manunggaling dengan masyarakat itu sendiri.
Salah satu nama yang menjadi fokus tulisan ini adalah KH. Munawir bin H. Maksum dari Kedungliwung Desa Kemiri, Kecamatan Singojuruh, Banyuwangi. Hampir setiap hari, ada saja masyarakat yang datang kepada kiai kelahiran 1935 dan wafat tahun 2006 ini. Para Tamu biasanya mengadukan aneka persoalan kehidupan. Seperti halnya seorang petani yang mengeluh karena sawahnya diserang wereng, “Kiai, saya minta doa, sawah saya diserang wereng,” pintanya. Biasanya, setelah itu, Kiai Munawir akan masuk ke kamarnya. Tak berapa lama, pengasuh kedua PP. Mambaul Falah sepeninggal kakaknya, KH. Rofi’i Maksum (1977), itu keluar sembari membawa beberapa biji kerikil.
Tak hanya problematika kehidupan belaka Kyai Munawir mampu mengatasi dengan wasilah kerikil, tapi sebenarnya hampir berbagai fan ilmu agama. Beliau adalah sosok Kyai yang mampu menguasai serta memberikan penjelasan secara detail dan ringkas, beliau kyai yang tekun, ulet dan sabar dalam menjalani hidup, selain itu beliau dikenal seabagai ketua Jatman sekaligus Mursyid Tarekat Qadiriyyah wa naqsyabandiyah, disisi lain beliau juga sering diundang sebagai pembicara (Mubaligh) dalam beberapa acara penting, inilah dalam istilah jawa beliau sangat lengakap apabila disebut dengan istilah kyai sembur,Kyai Tandur, Kyai Catur dan Kyai Tutur.
172 HALAMAN
RP. 55.000
14X20

