M. KHUSNA ARIF
Di tengah zaman ketika semua orang mudah berbicara, persoalannya bukan lagi siapa yang paling lantang, melainkan siapa yang mampu berbicara setelah membaca, menimbang, dan memahami.Santri Kritis, Santri Bicara membawa pembaca masuk ke dalam tradisi Bahtsul Masail, ruang intelektual pesantren tempat santri belajar memahami persoalan, menelusuri rujukan kitab, menyusun argumentasi, menyanggah pendapat, sekaligus menerima perbedaan tanpa kehilangan adab.Melalui tradisi ini, retorika bertemu dengan nalar kritis. Santri tidak hanya dilatih berani bersuara, tetapi juga membangun gagasan yang logis, berbasis dalil, serta mampu menjawab persoalan nyata. Bahtsul Masail pun memperlihatkan bahwa tradisi pesantren menyimpan kekuatan untuk melatih berpikir kritis, komunikasi, kolaborasi, dan pemecahan masalah yang tetap relevan di era modern.Sebab santri tidak cukup hanya mampu membaca kitab. Ia juga perlu mampu membaca zaman, menimbang persoalan, lalu berbicara dengan ilmu dan adab.
14,8 x 21 cm
Harga: Rp. 60.000,-

